Kamis, 10 April 2014

Short Story : Sahabat di Depan Mata

Sahabat di Depan Mata

Yuka POV
Kini hidupku benar benar telah berubah, aku tak menyukai kehidupanku. Mengapa tuhan memberiku takdir seperti ini. Ini semua terlalu menyakitkan, bahkan sangat menyakitkan. Tapi aku tetap mencoba sabar dalam menghadapi kehidupan baruku, yang kulalui dengan derai air mata setiap waktu, setiap menit, dan setiap detik hidupku, tak ada lagi gelak tawa yang menghiasi wajahku.

Aku ingin seperti dulu, di saat aku masih bisa tersenyum dengannya, tertawa bersamanya.

Ini semua berawal dari diriku yang mencoba mencari sosok sahabat. Sahabat yang dapat menenangkan hatiku, sahabat yang dapat menjadi inspirasiku, sahabat yang selalu ada untukku. Aku menginginkan sahabat. Tapi kini semuanya telah terlambat, aku telah menyia-nyiakan dia. 

Satu Bulan yang Lalu
"Yuka, coba kau lihat ini!" kata Viola kepadaku.
"Itu siapa?" tanyaku padanya.
"Dia adalah sahabat dumay ku." jawab Viola seraya tersenyum kepadaku.
"Dumay? Apa itu." tanyaku bingung, baru sekali ini aku mendengar kata itu.
"Dumay itu Dunia maya." jawabnya singkat.
"Owh, dimana kau kenal dengannya?"
"Di game online. Dia orangnya baik loh, aku senang dengannya, dan kami juga jadi sahabat." jelas Viola.
"Dia tinggal dimana?" tanyaku lagi.
"Dia tinggal di Semarang." balasnya.
"Aku iri padamu, aku juga ingin memiliki seorang sahabat." tuturku.
"Kalau begitu coba juga dong!" katanya. Aku hanya tersenyum sambil membereskan mejaku yang berantakan, jam istirahat telah masuk sejak 5 menit yang lalu.

Ketika aku sedang sibuk membereskan mejaku, Ghina datang menghampiriku.
"Yuka, ayo kita ke kantin. Apa kamu tak lapar?" tanyanya lembut kepadaku seraya tersenyum manis.
"Tunggu sebentar." jawabku. Ghina lalu membantuku membereskan meja.
"Sudah selesai, ayo kita pergi!" kata Ghina kemudian. Aku lalu berjalan beriringan dengannya.

"Ghina!" kataku memecah kesunyian.
"Ya?" balasnya.
"Aku ingin cerita padamu."
"Silahkan, aku akan setia mendengarkannya." jawabnya.
"Aku ingin memiliki sahabat, selama aku hidup, aku belum pernah merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang sahabat. Aku iri melihat Viola, dia memiliki banyak sahabat, bahkan juga ada di dumay. Aku iri." ujarku panjang lebar.
Tiba tiba Ghina terhenti, wajahnya menunjukkan rasa kaget, kecewa, sedih, dan sebagainya.
"Ada apa?" tanyaku bingung.
"E-Ehh, tidak ada. Kamu bilang kamu ingin memiliki seorang sahabat?" tanyanya kepadaku.
"Ya." jawabku seraya mengangguk.
"Kalau begitu kamu bisa mempraktekkan cara Viola mendapatkan sahabat." katanya kepadaku tak lupa dengan senyuman yang terpampang indah di wajahnya.
"Bagaimana caranya?" tanyaku untuk yang kesekian kalinya.
"Kamu juga bisa mencari sahabat di dumay." jawabnya.
"Benar juga, kamu pintar. Terima kasih banyak ya." ujarku kepadanya.

.
.
.
.
.
"Ahhhh, akhirnya sampai juga di rumah. Aku benar benar lelah. Oh iya, aku baru ingat." ucapku sambil berlarian menuju kamar.

Aku langsung bergegas mengambil laptop ku.
"Aku tak sabar ingin mendapat sahabat di dumay." kataku kepada diriku sendiri.

Aku lalu membuka sebuah situs, di sana dikatakannya situs itu merupakan tempat untuk mencari teman. Kita harus mendaftar terlebih dahulu.
"Nahhhh, udah siap. Sekarang aku hanya perlu menunggu sampai ada pesan dari orang lain masuk. Dan ajak dia kenalan." ucapku.
"Berapa lama aku harus menunggu? hahhh, sebaiknya aku sabar saja."

Kini hari telah gelap, aku tersentak kaget.
"Ternyata aku tertidur."
"Wah, ada pesan dari seseorang."

Ternyata itu adalah pesan dari orang yang juga mencari teman di situs itu. Aku bersorak gembira sambil teriak teriak tak jelas. Cepat cepat kubalas pesan darinya.

Setelah berulang kali mengirim pesan, akhirnya aku tau identitasnya. Nama nya adalah Friska Sagita, aku memanggilnya Gita, dia berasal dari Lampung. Umurnya sama denganku, 15 tahun.
"Aku tak sabar ingin cerita kepada Ghina." kataku.
.
.
.
.
.
"Wahhh, hari ini benar benar cerah, secerah hatiku." ucapku seraya masuk ke dalam mobil.
"Pak, hari ini aku ingin cepat sampai ke sekolah, jadi ngebut ya." kataku kepada supir pribadiku.
Ya, aku memang seorang anak kaya raya, tapi aku selalu mencoba untuk menutupinya, karena apa? Karena aku tak mau orang lain memanfaatkan harta kedua orang tuaku.

Setelah 5 menit perjalanan, akhirnya kami sampai. Aku langsung bergegas menuju ruang kelasku.
"Ghina!!!!!" kataku sambil berteriak.
"Ada apa Yuka? Kamu kelihatan senang sekali." tanya Ghina kepadaku.
"Aku mendapat teman di dumay." sorakku.
"Wah, apa benar. Selamat ya, namanya siapa?" tanya Ghina ramah.

Aku pun memulai ceritaku tentang Gita kepada Ghina.

Seharian ini topik perbincanganku dengan Ghina hanya tentang sahabat baru ku itu. Aku begitu senang, tanpa tau bagaimana perasaan orang lain.
"Ini pertama kalinya aku mendapat sahabat." kataku dilain waktu. Raut wajah Ghina langsung berubah drastis, tapi mungkin karena aku begitu senang, sampai sampai tak menyadari hal itu.
"E-Ehhh, aku mau ke toilet dulu." katanya kepadaku. Aku hanya mengangguk.

Ghina POV
Aku langsung berlari menuju toilet, air mataku berderai. Aku tak sanggup menahan tangis, kenapa Yuka tega berkata seperti itu kepadaku.

'Ini pertama kalinya aku mendapat sahabat.' kalimat itu terus terngiang di kepalaku.

Memangnya selama ini dia menganggap aku apa? Apa hanya parasit yang selalu mengganggu hidupnya? Jika itu memang benar, aku rela mati untuknya. Karena apa? Karena aku telah menganggap Yuka adalah sahabat ku sendiri, dia yang selalu ada untukku, di saat aku tersenyum, menangis, tertawa, bahagia, senang, sedih. Dia selalu ada untukku. Karena itu aku menganggapnya sebagai sahabatku, tapi betapa bodohnya aku. Selama ini aku hanya sebagai beban di hidup Yuka, senyum yang selama ini Yuka berikan, hanya sebuah senyuman palsu. Selama ini ia tak bahagia berteman denganku.

"Hiks" tangisku.

Setelah tangisku reda, aku kembali ke tempat Yuka berada. Kulihat dia sedang sibuk dengan hp ditangannya.
"Kamu sedang apa?" tanyaku.
"Ehhh, aku sedang membalas pesan dari Gita." jawabnya.
"Owh, memangnya dia tidak sekolah?" tanyaku lagi.
"Sekolahnya libur hari ini karena ada acara." jawab Yuka.
"Ayo kita kembali ke kelas." ujarku kepada Yuka. Yuka hanya mengangguk.
.
.
.
.
.
Yuka POV
"Kenapa Ghina tak masuk sekolah?" tanyaku kepada ketua kelas.
"Dia sakit." jawabnya singkat.
"Yahhh, padahal hari ini aku ingin cerita tentang Gita kepada Ghina." lamun ku.
"Gita? Siapa itu Gita?" tanya ketua kelas kepadaku.
"Ahhh, bukan siapa siapa. Pengen tau urusan orang lain aja."

Hari ini sepulang sekolah aku berencana akan ke rumah Ghina untuk melihat keadaannya.

"Sebaiknya aku bawa apa ya?"
"Hmmm, mungkin buah saja." kataku bertubi-tubi kepada diriku sendiri.
.
.
.
.
.
"Ghina!!!!" tak ada jawaban.
"Ghina!!!" panggilku sekali lagi, sekarang aku berada di depan rumah Ghina. aku berniat ingin melihat keadaannya.
"Ah iya tunggu sebentar!" kata suara dari dalam rumah.
"Wah, nak Yuka, mari masuk."
"Terima kasih tante, Ghina nya ada?" tanyaku kepada ibunya Ghina.
"Ada di kamar, mari tante antar."

Ibu Ghina lalu mengantarkanku menuju kamar putri semata wayang nya. Ghina Salsabila, Ghina merupakan murid pandai di kelasku, dia mendapat peringkat kedua di kelas. Setiap hari dia selalu menggunakan jilbab yang panjang, dia juga merupakan pribadi yang ramah dan baik hati. Dia sangat senang tersenyum, setiap kali aku ada masalah, dia pasti ada di sampingku. Membantuku menyelesaikan masalah tersebut.

"Ghina! Ini Yuka datang. Ibu buka pintumu ya." kata ibunya Ghina seraya membuka pintu.
"Ah, silahkan masuk Yuka. Maaf, kamarku sedikit berantakan." kata Ghina kepadaku.
"Tak apa." jawabku singkat.
"Kamu boleh duduk di sana." kata Ghina kepadaku.
"Terima kasih. Bagaimana keadaanmu?"
"Sudah agak baikan." jawabnya.
"Oh iya, aku mau cerita kepadamu. Kata Gita dia akan datang Sumatera Barat karena ayah nya mendapat tugas, jadi kalau sempat dia akan bermain  ke mari. Aku benar-benar senang." kataku kepada Ghina. Ghina hanya diam.
"Sepertinya kau tak senang mendengar kabar itu." 
"Ah, tidak, aku merasa tak enak badan." jawab Ghina.
"Owh, kalau begitu aku pulang dulu ya."
"Ya." jawabnya singkat.

Aku lalu pulang menuju rumah. Di perjalannan pulang aku masih sempat ber-chat-an dengan Gita. Namun pada saat yang tak terduga dia mengirim pesan yang membuat hatiku sakit membacanya.

Bukankah kau katakan kau tak menyukai anime, 
lalu mengapa kemaren kau malah menontonnya,
MUNAFIK BANGET.
Dan juga kau katakan kau itu anak orang kaya 
yang memiliki banyak mobil, 
lalu mengapa sekarang kau pulang berjalan kaki?
Katakan saja kalau kau itu telah berbohongkan?
Kau iri dengan keluargaku yang kaya raya.
Bukan maksudku ingin mencampuri urusanmu.
Tapi aku tak senang memiliki sahabat yang pembohong besar
DASAR PEMBOHONG BESAR.

Begitu isi pesannya kepadaku, aku hanya membalas,

Memangnya jika aku kaya, 
aku harus pulang dengan mobil?
aku bukan anak manja,
Terserah kamu mau bilang aku pembohong atau apa.
Yang penting aku tak senang dengan ucapanmu.
Aku BENCI orang yang berkata KASAR.
Kau mengerti?

Setelah membalas pesannya, aku langsung berlari menuju rumah. Ku buka pintu cepat cepat dan langsung berlarian menuju kamar. Ku hempaskan hp ku. Aku tak mau membaca pesannya lagi, ku peluk bantal yang ada di kamarku. Ku curahkan segala isi hatiku. Aku benar benar kecewa padanya, hanya karena hal sepele dia langsung mengeluarkan kata kasar kepadaku. Di saat seperti ini, biasanya ada Ghina yang akan duduk di sampingku dan menghiburku.Tapi kini dia sedang sakit, tak mungkin aku mengganggunya.

Aku lalu menghapus air mataku dan pergi tidur, aku berharap agar besok Ghina sembuh dan kembali ke sekolah.
.
.
.
.
.
Ghina tak datang ke sekolah, aku langsung bertanya kepada wali kelasku.
"Buk, kenapa Ghina tak hadir ke sekolah? Apa sakitnya semakin parah?" tanyaku.
"Apa kamu tak tau? Ghina telah pindah sekolah ke luar negri." jawab guruku.
"Pi-pindah sekolah?"
"Ya."

Aku berjalan gontai menuju rumah Ghina, kelihatannya kosong. Tak ada siapa siapa di sana. Karena itu aku memutuskan lanjut pulang menuju rumah.Di rumah, Ibu memberiku sebuah surat.
"Yuka, ini ada surat dari Ghina." kata ibu kepadaku.
"Ghina?"
"Ya"

Aku langsung mengambil surat itu dan membacanya.

Mungkin aku hanya menjadi beban dalam hidupmu
Mungkin aku hanya menjadi parasit bagi dirimu
Aku tak berhasil membuatmu bahagia
Aku tak berhasil menjadi sahabat bagimu

Jika kau ingin aku pergi
Aku akan melakukannya
Jika kau ingin aku mati
Aku akan melakukannya
Asalkan itu dapat membuatmu bahagia

Aku tau kau tak menganggapku sebagai sahabatmu
Tapi izinkan aku untuk terus menyayangiku
Karena selama ini aku menganggapmu sebagai sahabatku

Kau selalu ada di saatku membutuhkanmu
Kau selalu bisa membuatku bahagia

Tapi aku, hanya bisa menambah beban hidupmu
Maafkan aku yang tak dapat membuatmu bahagia
Sekarang aku tlah pergi
Aku berjanji tak akan mengganggu hidupmu lagi

Setelah membaca itu, aku langsung berderai air mata, kenapa aku baru sadar. Sahabat yang selama ini aku cari cari ada di dekatku. Dia yang selalu ada di saat aku membutuhkannya, dia selalu ada di saat aku senang maupun sedih.

Kembali ke masa kini

Kini semuanya telah terlambat, aku benar benar bodoh, bodoh karena telah menyia-nyiakan seseorang yang telah sangat berarti dalam hidupku. Sosok yang begitu banyak menyisakan kenangan indah bagiku, sosok yang selalu membuatku bahagia. Ya, dia adalah sahabatku. Sahabat sejatiku.
.
.
.
.
.
Kini hari hari kulalui dengan kesedihan, tak ada lagi senyum yang terlukis di wajahku, semenjak kepindahan Ghina, hidupku terasa hampa. Aku jadi susah makan, sering mengurung diri di kamar, dan sering melamun saat jam pelajaran.

Sampai suatu hari,
Ada mobil mewah yang terparkir di depan rumahku, rasanya mobil itu tak asing bagiku. Aku lalu masuk ke dalam rumah, dan menemukan seorang gadis muda.

"Aku pulang!"
"Wah, Yuka sudah pulang, ayo cepat ke mari. Ada yang menunggumu." kata ibu kepadaku. Aku lalu bergegas menuju tempat ibu berada.
"Siapa bu?" tanyaku malas.
"Kau lihat sendiri'" kata ibu.
"Ghi-Ghina!" teriakku sambil membelalakkan mata.
"Maaf kan aku, karena telah meninggalkanmu sendiri." katanya kepadaku.
"Bukan, seharusnya aku yang meminta maaf kepadamu. Selama ini aku tak menyadari bahwa kau adalah sahabat yang selama ini aku cari, maafkan aku." kataku kepada Ghina.
"Ya, aku memaafkanmu." jawabnya seraya tersenyum.
"Maukah kau menjadi sahabatku?" tanyaku padanya.
"Dengan senang hati." jawabnya

Akhirnya kami menjadi sahabat untuk selamanya, dan bagaimana dengan Gita? Ya, perusahaan ayahnya bangkrut, sehingga ia menjadi gelandangan. Aku dan Ghina tak sengaja bertemu dengannya saat kami sedang berbelanja ke toko buku. 

Gita masih tetap kasar kepadaku, semua orang membencinya karena sikapnya. Itulah balasan yang diberikan tuhan kepadanya.


THE END


Admin Note :
Wahhhh, akhirnya selesai juga. Saya menulis ini hanya ingin mengungkap kan isi hati saya, karena ada teman dumay saya yang pernah berkata kasar kepada saya, dan saya sangat membenci orang yang seperti itu, semoga dia sadar. Untuk masalah nama, itu hanya buatan, jadi bila ada kesamaan tempat ataupun nama, saya mohon maaf.

Saya harap cerita saya ini dapat menginspirasi kita semua.
Akhirkata GANBATTE! 



Sahabat di Depan Mata © Iffah Ayuza


Sabtu, 15 Maret 2014

Tujuan Blog Ini Dibuat

Yoroshiku minna-san.
Saya hadir di sini akan memberikan berbagai inspirasi kepada anda semua.
Ada berbagai macam cara yang akan saya lakukan untuk memberikan inspirasi bagi para pembaca agar dapat menciptakan semangat baru untuk menjadi yang terbaik.
Bukan hanya inspirasi yang akan saya berikan, tetapi saya juga akan memberikan berbagai ilmu baru kepada semuanya.